
Beberapa waktu terakhir, publik Indonesia menyoroti kasus Hogi Minoya yang menjadi tersangka setelah tindakannya mengejar dua pelaku penjambretan berujung pada meninggalnya kedua pelaku tersebut. Kasus ini berkembang semakin luas ketika DPR RI Komisi III meminta kasus tersebut dihentikan, serta Kapolda DIY Irjen Pol Anggoro Sukartono menonaktifkan Kapolresta Sleman Kombes Edy Setyanto Erning Wibowo. (Kompas.com 30/01/26)
Terlepas dari aspek hukum yang sedang berjalan, kasus ini membuka ruang refleksi yang sangat penting:
bagaimana satu keputusan dalam kondisi emosional dan penuh tekanan bisa berdampak besar pada hidup seseorang, organisasi, bahkan kepercayaan publik.
Di sinilah kita bisa belajar dari salah satu konsep fundamental dalam pengembangan diri dan kepemimpinan, yaitu The Rules 90/10 yang dipopulerkan oleh Stephen R. Covey—dan menjadi salah satu materi penting dalam Training JOKER di LPK 3MG.
Memahami Aturan 90/10: Hidup Kita Ditentukan oleh Reaksi, Bukan Kejadian
Stephen R. Covey menjelaskan bahwa:
“10% dari hidup kita ditentukan oleh apa yang terjadi pada kita,
90% sisanya ditentukan oleh bagaimana kita merespons kejadian tersebut.“
Kita tidak selalu bisa mengontrol situasi:
- Kejahatan bisa terjadi tiba-tiba
- Ancaman muncul tanpa peringatan
- Tekanan datang di luar kendali
Namun, cara kita bereaksi—itulah yang menentukan arah selanjutnya.
Dalam kasus Hogi Minoya, yang menjadi sorotan bukan hanya peristiwanya, tetapi rantai keputusan setelah peristiwa tersebut terjadi. Reaksi spontan, emosional, atau tidak terkelola dengan baik dapat membawa konsekuensi hukum, sosial, dan psikologis yang panjang
Ketika Reaksi Emosional Mengalahkan Kesadaran Situasional
Dalam kondisi tertekan, manusia cenderung:
- Bertindak cepat tanpa perhitungan matang
- Mengikuti emosi sesaat (amarah, takut, panik)
- Mengabaikan risiko jangka panjang
Padahal, dalam dunia profesional—baik sebagai aparat, pemimpin, maupun individu—kemampuan mengelola emosi dan mengambil keputusan sadar adalah keterampilan krusial.
Inilah yang sering membedakan:
- Tindakan berani vs tindakan berisiko
- Respon tegas vs respon reaktif
- Pemimpin yang matang vs pemimpin yang impulsif
Training JOKER LPK 3MG: Melatih Mindset, Emosi, dan Keputusan
Di LPK 3MG, Training JOKER dirancang bukan hanya untuk meningkatkan skill teknis, tetapi juga membangun mental tangguh dan mindset sadar keputusan, terutama dalam situasi sulit.
Beberapa nilai utama yang dipelajari dalam Training JOKER:
- Emotional Control – Mengelola emosi sebelum emosi mengelola kita
- Decision Awareness – Memahami dampak jangka panjang dari setiap pilihan
- Pressure Handling – Tetap berpikir jernih dalam situasi krisis
- Personal Responsibility – Bertanggung jawab atas reaksi, bukan menyalahkan keadaan
Konsep 90/10 Rule menjadi fondasi penting agar peserta memahami bahwa kesuksesan dan kegagalan sering kali tidak ditentukan oleh kejadian, melainkan oleh respons kita terhadapnya.
Relevan untuk Siapa Saja, Bukan Hanya Pemimpin
Pembelajaran ini tidak hanya relevan untuk aparat atau pejabat publik, tetapi juga:
- Karyawan yang bekerja di bawah tekanan target
- Leader tim yang menghadapi konflik internal
- Fresh graduate yang menghadapi dunia kerja yang keras
- Individu yang ingin berkembang secara mental dan profesional
Karena di dunia nyata, tekanan akan selalu ada—namun kesiapan mental bisa dilatih.
Saatnya Melatih Reaksi, Bukan Menunggu Situasi Ideal
Kita tidak bisa memilih kejadian apa yang akan datang esok hari.
Namun kita bisa memilih menjadi pribadi yang lebih siap, lebih sadar, dan lebih bijak dalam merespons.
Dan itu tidak datang secara instan—tetapi melalui proses pembelajaran dan pelatihan yang tepat.
Ingin membangun mindset kuat, emosi stabil, dan kemampuan mengambil keputusan yang tepat di bawah tekanan?
👉 Gabung Training JOKER di LPK 3MG
📅 Jadwal rutin setiap minggu:
🗓️ Rabu & Kamis
📍 Online & Offline (Hybrid Training)
🎯 Materi aplikatif, relevan dengan tantangan dunia kerja dan kehidupan nyata 🔗 Daftar sekarang melalui website resmi kami di pt3mg.co.id
Karena masa depan bukan ditentukan oleh apa yang terjadi pada kita—
tetapi oleh bagaimana kita meresponsnya.